Koalisi Baru Muncul untuk Mengatasi Kebuntuan PBB dalam Penghapusan Bahan Bakar Fosil

17

Dalam sebuah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk memecahkan kebuntuan diplomatik seputar kebijakan iklim global, sekitar 60 negara berkumpul di Santa Marta, Kolombia. Pertemuan ini menandai upaya terkoordinasi pertama yang dilakukan sekelompok negara untuk merencanakan transisi terstruktur dari batu bara, minyak, dan gas—sebuah tujuan yang berulang kali terhenti selama pertemuan puncak iklim PBB.

Memutus Siklus “Veto”.

Selama bertahun-tahun, mekanisme utama aksi iklim global adalah pertemuan tahunan COP (Konferensi Para Pihak) PBB. Namun, pertemuan-pertemuan ini dilaksanakan berdasarkan prinsip konsensus, yang berarti satu produsen bahan bakar fosil dapat secara efektif memveto keputusan kolektif apa pun. Cacat struktural ini terungkap pada COP30 di Brasil, ketika negosiasi peta jalan bahan bakar fosil gagal karena beberapa negara penghasil minyak menolak menyetujui persyaratan tersebut.

Pertemuan Santa Marta mewakili perubahan strategis dalam diplomasi. Daripada memaksakan konsensus global yang mungkin tidak akan pernah tercapai, “koalisi yang berkeinginan” ini bertujuan untuk menciptakan cetak biru fungsional transisi yang pada akhirnya dapat berkembang.

Peserta Utama dan Kekuasaan yang Hilang

Kelompok yang menghadiri perundingan di Kolombia merupakan kelompok yang signifikan karena mencakup beberapa produsen energi besar seperti Kolombia, Australia, dan Nigeria. Secara keseluruhan, negara-negara ini menyumbang sekitar seperlima dari pasokan bahan bakar fosil global.

Namun, koalisi tersebut menghadapi tantangan besar: saat ini koalisi tersebut tidak menyertakan negara-negara dengan perekonomian dan konsumen energi terbesar di dunia, khususnya:
Amerika Serikat
Tiongkok
India

Absennya ketiga negara besar ini berarti bahwa walaupun koalisi ini bisa menjadi preseden, dampak langsungnya terhadap emisi global akan terbatas sampai negara-negara besar ini bersatu.

Urgensi: Sains dan Geopolitik

Dorongan untuk pertemuan ini didorong oleh dua tekanan yang bertemu: kebutuhan lingkungan hidup dan ketidakstabilan geopolitik.

1. Mendekati Titik Kritis Iklim

Para ilmuwan iklim memperingatkan bahwa peluang untuk mencegah kerusakan permanen sudah semakin dekat. Profesor Johan Rockström dari Potsdam Institute for Climate Impact Research mencatat bahwa dunia kemungkinan akan melanggar batas pemanasan 1,5°C dalam tiga hingga lima tahun ke depan.

“Menembus suhu 1,5°C berarti kita memasuki dunia yang jauh lebih berbahaya—dengan kekeringan, banjir, kebakaran, dan gelombang panas yang lebih sering dan intens,” Prof. Rockström memperingatkan.

2. Keamanan dan Volatilitas Energi

Selain krisis lingkungan hidup, konflik global—khususnya di Timur Tengah—telah menyoroti risiko yang melekat pada ketergantungan bahan bakar fosil. Volatilitas yang terjadi baru-baru ini di Selat Hormuz telah menyebabkan harga minyak berfluktuasi, mendorong kesadaran di banyak negara bahwa kemandirian energi terkait dengan energi terbarukan. Pergeseran ini sudah terlihat pada perilaku konsumen; misalnya, terjadi peningkatan tajam dalam permintaan kendaraan listrik di Eropa karena masyarakat berupaya melepaskan diri dari pasar minyak dan gas yang bergejolak.

Melihat ke Depan: Dari Santa Marta hingga COP31

Tujuan pertemuan ini bukan untuk menggantikan proses PBB, namun untuk melengkapinya. Dengan menunjukkan bahwa transisi ke energi ramah lingkungan dapat dilakukan secara teknis dan aman secara ekonomi, koalisi ini berharap dapat mempengaruhi negara-negara di dunia.

Hasil dari Santa Marta diharapkan memainkan peran penting dalam peta jalan yang sedang dikembangkan oleh Brasil. Peta jalan ini akan menjadi landasan penting untuk COP31 di Turki pada bulan November mendatang.


Kesimpulan
Dengan membentuk koalisi khusus, 60 negara ini berupaya untuk mengatasi kelumpuhan diplomatik PBB guna menciptakan peta jalan praktis untuk transisi energi. Meskipun pengecualian negara-negara besar masih menjadi tantangan, gerakan ini berupaya membuktikan bahwa peralihan ke energi terbarukan adalah jalan yang paling memungkinkan untuk mencapai stabilitas iklim dan keamanan energi nasional.