Empat bunglon baru telah ada saat ini, dan mereka tidak hidup di tempat lain di Bumi.
Mereka mendiami hutan hujan terpencil di Mozambik. Hutan-hutan ini terletak tinggi di pegunungan granit. Sabana di bawahnya kering. Puncaknya tidak. Mereka menangkap awan. Mereka menjebak hujan. Hasilnya adalah ekosistem sejuk dan lembap yang tersembunyi di balik kabut.
Isolasi ini adalah kuncinya. Hal ini menciptakan apa yang para ilmuwan sebut sebagai “pulau langit”. Setiap puncak adalah dunia yang terpisah.
Survei baru mengonfirmasi bahwa masing-masing gunung ini menjadi rumah bagi spesies bunglon yang unik. Mereka adalah bagian dari genus Sylvan Chameleon, Nadzikambia. Empat di antaranya merupakan hal baru bagi sains.
Bagaimana DNA Mengungkap Spesies Bunglon Kriptik
Para ilmuwan yang terlibat adalah Profesor Krystal A. Tolley dari North-West University dan Dr. Werner Conradie dari Iziko South African Museum. Mereka mendeskripsikan hewan-hewan ini di jurnal Vertebrate Zoology.
Sebelum penelitian ini dilakukan, pegunungan di bagian utara Mozambik tidak terpetakan dengan baik. Bahkan wilayah terpencil di Afrika mempunyai catatan yang lebih baik. Mengapa kesenjangannya? Logistik. Bahaya. Kurangnya dana.
Tolley dan Conradie ingin mengetahui apakah hutan-hutan ini memiliki spesies reptil yang berbeda. Mereka menduga pemisahan jangka panjang telah mendorong evolusi. Waktu adalah penyelam yang kuat.
Mereka melakukan perjalanan ke puncak. Mereka mengumpulkan sampel. Mereka mengukur tubuh. Lalu tibalah pekerjaan laboratorium.
Mereka menggunakan Konsep Silsilah Umum Spesies. Metode ini melihat banyak bukti. Bukan hanya penampilan. DNA lebih penting di sini.
Mereka mengurutkan empat gen dari bunglon. Mereka membandingkan pola genetik. Hasilnya jelas.
Sekilas, kadal tersebut terlihat mirip. Hijau. Bersisik. Ahli kamuflase. Gen mereka menceritakan kisah yang berbeda. Pohon filogenetik yang direkonstruksi dari DNA ini mengelompokkan hewan berdasarkan gunung.
Bunglon dari Gunung Namuli tidak berkembang biak dengan bunglon dari Gunung Chiperone. Mereka tidak pernah bercampur selama jutaan tahun. Kesamaan di sini hanyalah ilusi. Ini mencerminkan adaptasi terhadap lingkungan yang serupa, bukan nenek moyang yang sama.
“Dengan cara yang sama, gajah Afrika dan Asia… adalah spesies berbeda yang telah mengembangkan bentuk tubuh serupa untuk gaya hidup serupa.”
— Dr
Nama Dibalik Penemuan Baru
Konvensi penamaan memang disengaja. Itu menghormati orang. Ini menandakan bahaya. Ini menghubungkan budaya lokal dengan ilmu pengetahuan global.
Nadzikambia goodallae tinggal di Gunung Ribáuè. Itu menghormati Jane Goodall. Penelitiannya dengan simpanse mengubah cara kita memandang perilaku hewan. Hal ini juga menginspirasi konservasi global.
Goodall menghabiskan waktu puluhan tahun di hutan sebelum dia menjadi selebriti. Dia menyaksikan kehidupan. Dia mendokumentasikan ekosistem. Dia melihat bagaimana spesies berinteraksi.
Anna Rathmann, Direktur Eksekutif Jane Goodalls Institute USA, menyebut pemberian nama tersebut sebagai “penghormatan yang pantas”. Hal ini menyoroti perlunya melindungi hutan-hutan ini. Untuk semua orang. Termasuk kita.
Nadzikambia franklinae berasal dari Gunung Namuli. Itu nama Rosalind Franklin. Dia membantu menentukan struktur DNA. Tanpa karyanya, metode genetik yang digunakan untuk mengenali spesies samar ini mungkin tidak akan ada. Sains dibangun berdasarkan sains sebelumnya.
Nadzikambia evanescens berasal dari Gunung Inago. Evanescens artinya “menghilang”. Nama itu adalah peringatan. Habitatnya semakin menyusut. Spesies ini mungkin hilang bahkan sebelum kita menemukannya.
Spesies keempat adalah Nadzikambia nubila. Ditemukan di Gunung Chiperone, di samping sungai. Namanya mengacu pada “Ciperoni.” Penduduk setempat menggunakan istilah ini untuk tutupan awan tebal yang menyebabkan curah hujan orografis. Udara lembab naik di atas gunung. Itu mendingin. Hujan turun. Nubilus adalah bahasa Latin untuk berawan. Nama tersebut menggambarkan cuaca yang membuat hutan tetap hidup.
Mengapa Perlindungan Komunitas Menyelamatkan Spesies Pulau Langit
Hutan tropis menghilang secara global. Afrika tidak terkecuali. Pertanian membuka lahan. Hutan terbakar.
Pulau langit di Mozambik berukuran kecil. Mereka rapuh. Satu kesalahan menghapuskan garis keturunan yang unik.
Namun penelitian ini menawarkan jalan yang berbeda. Keterlibatan masyarakat berhasil.
Gunung Chiperone dianggap suci bagi masyarakat setempat. Keyakinan budaya melindungi flora dan faunanya. Menghormati tanah melestarikannya.
Di Gunung Mabu, konservasi berbasis masyarakat selama lebih dari sepuluh tahun telah menjaga hutan. Kedua puncak ini memiliki habitat paling utuh selama penelitian.
Apakah konservasi bertentangan dengan penghidupan? Tidak selalu. Ketika warga mendapat dukungan. Ketika nilai-nilai budaya sejalan dengan tujuan lingkungan. Semua orang mendapat manfaat.
Ekosistem yang terisolasi akan berkembang jika masyarakat setempat mempunyai kepentingan dalam melindungi ekosistem tersebut. Ini bukan hanya tentang menyelamatkan hewan. Ini tentang menyelamatkan kondisi yang memungkinkan mereka untuk bertahan hidup.
Keempat bunglon baru itu nyata. Mereka tersembunyi. Mereka dalam bahaya. Namun hal ini juga merupakan bukti bahwa penelitian yang cermat dan pengelolaan lokal dapat menjaga kelangsungan hidup benda-benda langka.
Hutan masih tersisa. Gunung-gunung berdiri. Tapi berapa lama?
Jawabannya tergantung pada apa yang terjadi selanjutnya.






























