Pergeseran signifikan sedang terjadi dalam lanskap pola makan global. Setelah beberapa dekade peringatan kesehatan masyarakat menyarankan konsumen untuk membatasi daging merah, daging sapi kini kembali populer. Kebangkitan ini didorong oleh kombinasi pedoman pola makan baru pemerintah AS, gerakan budaya, dan perubahan politik—bahkan ketika bukti ilmiah terus menghubungkan konsumsi daging merah dengan risiko kesehatan yang serius.
Pergeseran Pedoman Resmi
Pembaruan pedoman diet AS baru-baru ini telah menimbulkan kejutan di komunitas nutrisi. Berbeda dengan pedoman sebelumnya yang menekankan pada protein nabati, pedoman baru ini menempatkan protein hewani, termasuk daging sapi, sebagai prioritas utama dalam pola makan sehat.
Perubahan ini telah menimbulkan kebingungan yang signifikan bagi konsumen. Para ahli mencatat bahwa ketika piramida makanan menonjolkan steak berukuran besar, hal itu mengirimkan pesan bawah sadar bahwa konsumsi tanpa batas itu sehat. Pergeseran ini sangat kontroversial karena USDA dilaporkan menolak rekomendasi dari komite penasihat independen yang mengadvokasi lebih banyak pola makan nabati untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan kelestarian lingkungan.
Sains: Risiko Kesehatan vs. Nilai Gizi
Meskipun tren budaya dan politik mengarah ke lebih banyak daging, realitas biologis tetap menjadi perhatian para peneliti. Konsensus ilmiah mengenai daging merah tidak berubah, meskipun pedomannya telah berubah.
1. Kaitan Kanker
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya mengklasifikasikan daging olahan (seperti bacon dan ham) sebagai karsinogen. Penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi 50 gram daging olahan setiap hari dapat meningkatkan risiko kanker kolorektal sekitar 18%. Daging merah yang tidak diolah juga dianggap sebagai “kemungkinan karsinogen”, dengan penelitian menunjukkan hubungan yang jelas antara konsumsi rutin dan peningkatan risiko kanker.
2. Penyakit Jantung dan Faktor “TMAO”.
Selama bertahun-tahun, lemak jenuh dianggap sebagai penyebab penyakit jantung. Namun, penelitian terbaru menunjukkan adanya mekanisme yang lebih kompleks. Ketika bakteri usus memecah senyawa yang ditemukan dalam daging merah (seperti kolin dan L-karnitin), mereka menghasilkan zat yang disebut TMAO (trimetilamina N-oksida).
* Dampaknya: TMAO mengobarkan pembuluh darah dan mencegah pembersihan kolesterol dari arteri, sehingga berkontribusi terhadap aterosklerosis, serangan jantung, dan stroke.
* Temuan: Hal ini menunjukkan bahwa daging merah “tanpa lemak” pun dapat membawa risiko yang lebih dari sekedar kandungan lemak sederhana.
3. Pertukaran Gizi
Penting untuk dicatat bahwa daging merah bukannya tanpa manfaat. Ini adalah sumber nutrisi penting yang padat, termasuk:
* Besi
* Vitamin B12
* Seng
Ahli gizi berpendapat bahwa meskipun daging merah adalah pilihan yang lebih baik daripada makanan olahan yang mengandung banyak gula dan pati, daging merah bukanlah pilihan yang “paling sehat” yang ada.
Penggerak: Mengapa Daging Sapi Menjadi Tren?
Jika ilmu pengetahuan menunjukkan adanya kehati-hatian, mengapa konsumsi meningkat di AS, Australia, dan di kalangan demografi tertentu di Inggris? Jawabannya tampaknya lebih bersifat kultural dibandingkan biologis.
- “Obsesi Protein”: Ada peningkatan fiksasi budaya terhadap asupan protein tinggi. Pedoman AS baru-baru ini telah meningkatkan hampir dua kali lipat rekomendasi asupan protein harian—sebuah langkah yang menurut banyak ilmuwan tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat.
- Maskulinitas dan Budaya: Dalam subkultur online tertentu, seperti “manosphere”, daging merah telah menjadi simbol maskulinitas, kekuatan, dan kemandirian tradisional. Hal ini menyebabkan peningkatan konsumsi daging di kalangan pria muda.
- Pengaruh Politik dan Industri: Kebangkitan ini juga terkait dengan pergeseran politik. Pemerintahan AS saat ini telah menggambarkan promosi daging sebagai cara untuk mendukung para petani dan peternak Amerika, dengan memandang “makanan asli” melalui sudut pandang yang memprioritaskan produksi ternak tradisional dibandingkan alternatif nabati.
Kesimpulan
Kembalinya daging sapi ke dalam hidangan utama piring makan adalah sebuah fenomena yang lebih didorong oleh identitas budaya dan kepentingan politik dibandingkan oleh ilmu gizi. Meskipun daging merah menyediakan nutrisi penting, semakin banyak bukti mengenai penyakit jantung dan kanker menunjukkan bahwa pendekatan “lebih banyak lebih baik” terhadap daging sapi mungkin bertentangan dengan tujuan kesehatan jangka panjang.





























