Shakespeare, Alam, dan Lingkaran Kehidupan: Pelajaran dari Hamnet

18

Film baru Hamnet, yang diadaptasi dari novel terkenal Maggie O’Farrell, dengan kuat menggambarkan hubungan antara umat manusia dan alam yang sangat selaras dengan karya William Shakespeare sendiri. Meskipun film ini menampilkan gambaran mendalam melalui Agnes, ibu dari putra Shakespeare, Hamnet, yang digambarkan sangat erat kaitannya dengan hutan dan pengobatan herbal, namun ini bukanlah konsep baru. Shakespeare sangat menyadari bahwa manusia adalah bagian dari siklus alam yang tidak bisa dihindari, bukan terpisah darinya.

Logika Brutal Hamlet

Pertimbangkan adegan penggali kubur yang terkenal di Hamlet. Tanggapan dingin sang pangeran terhadap pertanyaan raja tentang Polonius—”Bukan di mana dia makan, tapi di mana dia dimakan”—menggarisbawahi kebenaran biologis yang kejam. Shakespeare tidak menghindar dari rantai makanan; bahkan, ia menyoroti hal ini dengan sangat jelas: kita mengonsumsi makhluk lain untuk menopang kehidupan kita sendiri, dan pada gilirannya menjadi makanan bagi orang lain.

Ini bukan sekedar daya tarik yang tidak wajar. Ini adalah pengakuan mendasar atas kematian dan keterhubungan semua kehidupan. Seperti yang dikatakan Shakespeare, bahkan jenazah raja pun bisa menjadi makanan cacing, yang kemudian menjadi makanan ikan, yang kemudian bisa dimakan manusia. Implikasinya tidak bisa dihindari: kita semua adalah bagian dari siklus ini, predator dan mangsa.

Hamnet sebagai Gema

Penulis Rowan Hooper mencatat bahwa O’Farrell dan sutradara Chloe Zhao tampaknya mendaur ulang esensi anak laki-laki yang meninggal itu ke dalam fiksi Hamlet. Ini bukan suatu kebetulan: karya Shakespeare selalu kembali pada kebenaran yang tak terhindarkan ini. Hamnet bukan hanya sebuah tragedi; ini adalah pengingat yang brutal bahwa bahkan dalam kesedihan, kita tetap terikat oleh hukum yang sama yang mengatur setiap makhluk di Bumi.

Film tersebut, dan karya Shakespeare secara lebih luas, memaksa kita untuk menghadapi tempat kita dalam tatanan alam. Ini adalah pengakuan yang meresahkan namun perlu bahwa eksepsionalisme manusia hanyalah sebuah ilusi. Kita tidak berada di atas siklus tersebut, hanya mata rantai lain dalam rantai tersebut.

Di dunia yang semakin terputus dari alam, baik drama Hamnet maupun Shakespeare menawarkan pelajaran yang jelas: kita mengabaikan kebenaran mendasar ini dan menanggung risikonya sendiri.