Tidak Ada Bukti yang Mengaitkan Penggunaan Asetaminofen Selama Kehamilan dengan Autisme, Temuan Tinjauan Utama

16

Tinjauan komprehensif terhadap 43 penelitian ilmiah menemukan tidak ada hubungan yang signifikan secara statistik antara penggunaan asetaminofen selama kehamilan dan peningkatan risiko autisme atau gangguan perkembangan saraf lainnya pada anak-anak. Temuan ini, yang diterbitkan pada hari Jumat di The Lancet, secara efektif membantah klaim baru-baru ini yang menyatakan bahwa obat penghilang rasa sakit (umumnya dikenal sebagai Tylenol) menimbulkan ancaman bagi perkembangan otak janin.

Penelitian yang Bertentangan Terselesaikan

Penelitian sebelumnya mengenai topik ini memberikan hasil yang tidak konsisten, beberapa penelitian melaporkan tidak ada hubungan dan penelitian lainnya menunjukkan sedikit peningkatan risiko. Meta-analisis baru ini, yang dipimpin oleh Dr. Asma Khalil dari Rumah Sakit St. George, Universitas London, memberikan bukti paling pasti hingga saat ini. Dr. Khalil menyatakan dalam konferensi pers, “Kami tidak menemukan peningkatan signifikan secara klinis dalam risiko autisme, A.D.H.D., atau disabilitas intelektual.”

Perawatan Lini Pertama Tetap Aman

Parasetamol tetap menjadi pengobatan lini pertama yang direkomendasikan untuk nyeri dan demam selama kehamilan, menurut Dr. Khalil. Hal ini karena demam pada ibu yang tidak diobati dapat menimbulkan risiko kesehatan bagi ibu dan janin yang sedang berkembang. Kelompok medis, termasuk American College of Obstetricians and Gynecologists, secara konsisten mendukung pendirian ini.

Klaim Politik Dibantah

Temuan penelitian ini secara langsung bertentangan dengan klaim tidak berdasar yang dibuat oleh mantan Presiden Trump dan Menteri Kesehatan Robert F. Kennedy Jr., yang secara terbuka mendesak wanita hamil untuk menghindari asetaminofen berdasarkan teori yang belum terbukti bahwa asetaminofen menyebabkan autisme. Klaim ini tidak didukung oleh bukti ilmiah dan mengabaikan risiko yang ada jika demam tidak diobati selama kehamilan.

Perdebatan mengenai keamanan asetaminofen pada kehamilan menyoroti masalah yang lebih luas yaitu informasi yang salah dalam kesehatan masyarakat. Meskipun beberapa kekhawatiran mengenai penggunaan obat-obatan selama kehamilan memang benar, menyebarkan ketakutan yang tidak berdasar tanpa dukungan ilmiah dapat merugikan ibu hamil dan kepercayaan masyarakat terhadap profesional medis.

Sebagai kesimpulan, banyak sekali bukti yang menegaskan bahwa penggunaan asetaminofen selama kehamilan tidak terbukti meningkatkan risiko gangguan perkembangan saraf pada anak-anak, dan tetap merupakan pengobatan yang aman dan efektif untuk demam dan nyeri ibu.