Sinkronisasi Otak Ibu-Anak Lintas Bahasa, Temuan Studi

13

Sebuah studi baru menegaskan bahwa hubungan otak yang unik antara ibu dan anak tetap ada bahkan ketika mereka berkomunikasi dalam bahasa yang bukan bahasa ibu mereka. Para peneliti di Universitas Nottingham menemukan sinkronisasi saraf yang signifikan selama bermain, terlepas dari apakah pasangan tersebut berbicara dalam bahasa pertama mereka atau bahasa Inggris. Artinya, hubungan mendalam di tingkat otak antara orang tua dan anak tidak bergantung pada kefasihan berbahasa.

Ilmu Sinkronisasi Antar Otak

Fenomena yang disebut sinkronisasi antarotak ini menggambarkan aktivitas simultan dalam jaringan saraf antara orang-orang yang berinteraksi. Hal ini terlihat dalam berbagai aktivitas sosial – mulai dari kerja kolaboratif hingga bernyanyi bersama – dan dikaitkan dengan ikatan yang lebih kuat dan komunikasi yang lebih efektif.
Studi ini berfokus pada keluarga bilingual, sebuah kelompok yang belum banyak dipelajari dalam ilmu saraf meskipun ada manfaat kognitif dari bilingualisme yang terbukti: peningkatan keterampilan bahasa, kesadaran sosial yang lebih baik, dan peningkatan pemahaman budaya. Tim ingin mengetahui apakah manfaat ini juga mencakup penyelarasan otak-ke-otak.

Eksperimen

Para peneliti memantau 15 pasangan ibu-anak yang bilingual menggunakan fNIRS, sebuah teknik non-invasif yang mengukur aktivitas otak. Keluarga-keluarga tersebut melakukan tiga aktivitas: bermain bersama dalam bahasa ibu mereka, bermain bersama dalam bahasa Inggris, dan bermain secara terpisah di belakang layar. Topi fNIRS melacak aktivitas di korteks prefrontal (pengambilan keputusan, kepribadian) dan persimpangan temporoparietal (kognisi sosial, bahasa).

Hasilnya menunjukkan bahwa sinkronisasi otak meningkat secara signifikan saat ibu dan anak bermain bersama, apa pun bahasa yang mereka gunakan. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan emosional tidak terhalang oleh jarak linguistik. Sinkronisasi paling kuat terjadi di korteks prefrontal, yang menunjukkan fungsi eksekutif bersama, sementara lebih lemah di persimpangan temporoparietal.

Mengapa Ini Penting

Temuan ini menantang persepsi umum bahwa penutur bahasa kedua mengalami jarak emosional. Meskipun benar bahwa beberapa orang mungkin merasa kurang nyaman mengungkapkan kasih sayang atau disiplin dalam bahasa asing, otak tampaknya mengabaikan hambatan tersebut pada tingkat yang mendasar.

“Bilingualisme terkadang dipandang sebagai sebuah tantangan, namun dapat memberikan keuntungan nyata dalam kehidupan. Penelitian kami menunjukkan bahwa tumbuh dengan lebih dari satu bahasa juga dapat mendukung komunikasi dan pembelajaran yang sehat,” kata Douglas Hartley, penulis utama studi tersebut.

Studi ini juga menunjukkan bahwa perbedaan dalam cara orang tua dan anak-anak memperoleh bahasa (pembelajaran paralel awal vs penguasaan bahasa di kemudian hari) tidak meniadakan efek sinkronisasi. Hal ini menyiratkan bahwa koneksi inti otak tidak bergantung pada keselarasan linguistik yang sempurna.

Penelitian Masa Depan

Para peneliti merekomendasikan untuk memperluas penelitian ini dengan menyertakan keluarga dengan tingkat kefasihan non-pribumi yang berbeda-beda dan anak-anak yang belajar bahasa kedua di kemudian hari. Mengeksplorasi peran isyarat nonverbal seperti kontak mata dan gerak tubuh juga merupakan kuncinya, begitu juga dengan membandingkan sinkronisasi antara orang tua dan tokoh lain seperti guru atau orang asing. Temuan penelitian ini menggarisbawahi bahwa ikatan emosional yang kuat dapat mengatasi hambatan bahasa, menegaskan bahwa komunikasi yang efektif bergantung pada lebih dari sekedar kata-kata.