Ubur-ubur Tidur Seperti Manusia, Mengungkap Asal Usul Istirahat

17

Ubur-ubur secara mengejutkan menunjukkan pola tidur yang mirip manusia, beristirahat sekitar delapan jam setiap hari dengan tidur siang dan meningkatkan waktu tidur setelah gangguan – sebuah penemuan yang menjelaskan mengapa tidur berevolusi. Temuan ini menunjukkan bahwa tidur tidak hanya terjadi pada otak yang kompleks tetapi mungkin berasal dari sistem saraf yang lebih sederhana pada kehidupan awal kehidupan laut.

Kebiasaan Tidur Tak Terduga Makhluk Tak Berotak

Selama beberapa dekade, tidur dianggap sebagai kebutuhan yang terkait dengan otak kompleks mamalia, membantu konsolidasi memori dan pembuangan limbah. Namun ubur-ubur, yang termasuk dalam kelompok cnidaria yang tidak punya otak, membantah anggapan tersebut. Para peneliti di Universitas Bar-Ilan di Israel mengamati Cassiopea andromeda, spesies ubur-ubur yang terbalik, dalam siklus 24 jam.

Tim menggunakan kamera untuk melacak perilaku dalam simulasi kondisi siang-malam. Selama “siang hari”, ubur-ubur menggerakkan tubuhnya secara aktif (lebih dari 37 kali per menit) dan merespons rangsangan dengan cepat. Pada malam hari, denyutnya melambat, dan reaksinya melambat, yang jelas menunjukkan kondisi tidur. Perilaku berdenyut ini membantu ubur-ubur memberi makan dan mengedarkan oksigen.

Kurang Tidur dan Pemulihan

Seperti halnya manusia, ubur-ubur ini menyesuaikan jadwal tidurnya berdasarkan istirahat sebelumnya. Ketika para peneliti secara artifisial mengganggu tidur mereka dengan aliran air, ubur-ubur tidur lebih banyak keesokan harinya.

“Ini seperti kita: jika kita kurang tidur di malam hari, kita tidur di siang hari karena kita lelah,” kata pemimpin peneliti, Lior Appelbaum.

Kaitan Evolusioner Antara Tidur dan Perbaikan DNA

Pengungkapan paling signifikan: tidur tampaknya berperan dalam perbaikan DNA. Para peneliti menemukan bahwa kerusakan DNA terakumulasi di neuron ubur-ubur saat terjaga, namun tidur mengurangi kerusakan ini. Ketika mereka secara artifisial meningkatkan kerusakan DNA dengan sinar UV, ubur-ubur tidur lebih lama.

Hal ini menunjukkan bahwa tidur bukan hanya proses pemulihan otak, namun merupakan mekanisme mendasar untuk menjaga kesehatan saraf – mungkin menjadi alasan mengapa tidur berevolusi pada organisme laut awal. Penelitian lebih lanjut mengkonfirmasi pola tidur serupa pada anemon laut bintang muda, menandai bukti pertama adanya tidur pada spesies ini.

Penemuan ini menyoroti bahwa tidur mungkin jauh lebih primitif dan penting daripada yang diperkirakan sebelumnya. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan apakah mekanisme perbaikan DNA ini berlaku untuk spesies lain, termasuk mamalia, namun temuan ini telah menawarkan perspektif baru tentang mengapa semua hewan tidur.