Seorang pria berusia 63 tahun, yang dikenal di kalangan medis sebagai “pasien Oslo”, telah mencapai apa yang dulunya dianggap hampir mustahil: remisi jangka panjang dari HIV tanpa perlu pengobatan setiap hari.
Setelah transplantasi sumsum tulang, para peneliti menemukan bahwa seluruh sistem kekebalan tubuh pasien telah “di-boot ulang” secara efektif, sehingga membuatnya kebal terhadap virus. Terobosan ini bukanlah upaya yang direncanakan untuk menyembuhkan HIV, namun merupakan hasil sampingan dari pengobatan kanker darah yang mengancam jiwa.
“Kunci” Genetik: Memahami CCR5 delta 32
Kunci keberhasilan medis ini terletak pada mutasi genetik spesifik yang disebut CCR5 delta 32.
Untuk memahami mengapa hal ini penting, kita harus melihat bagaimana HIV bekerja. Virus ini biasanya memasuki sel kekebalan seseorang dengan menempel pada protein tertentu pada permukaan sel yang disebut CCR5. Pada individu dengan mutasi CCR5 delta 32, protein ini pada dasarnya hilang atau dinonaktifkan.
- Mekanisme: Tanpa protein CCR5, virus tidak memiliki “pintu masuk” untuk masuk ke dalam sel.
- Donor: Dalam kasus ini, saudara laki-laki pasien membawa dua salinan mutasi ini, sehingga sel kekebalannya kebal terhadap HIV.
- Kemungkinan: Kemungkinan menemukan saudara kandung yang cocok kira-kira 25%, dan frekuensi mutasi ganda spesifik ini pada populasi Eropa Utara hanya sekitar 1%. Sebagaimana dicatat oleh para peneliti, hal ini merupakan pertemuan yang jarang terjadi antara kebutuhan medis dan keberuntungan genetik.
Dari Pengobatan Kanker hingga Pengobatan Virus
Pasien tersebut telah mengidap HIV sejak tahun 2006 dan berhasil menangani virus tersebut melalui Terapi Antiretroviral (ART). Meskipun ART mencegah perkembangan menjadi AIDS dan menghentikan penularan, ART memerlukan kepatuhan yang ketat dan seumur hidup.
Jalan menuju kesembuhan dimulai ketika pasien didiagnosis menderita sindrom myelodysplastic, suatu bentuk kanker sumsum tulang. Untuk mengobati kankernya, dokter melakukan transplantasi sel induk hematopoietik, menggantikan sumsumnya yang sakit dengan sel sehat dari saudaranya.
“Dia sembuh dari penyakit sumsum tulangnya, yang bisa berakibat fatal, dan kemungkinan besar dia juga sembuh dari HIV,” kata Dr. Marius Trøseid, seorang profesor di Rumah Sakit Universitas Oslo.
Bukti “Penyembuhan Fungsional”
Dua tahun setelah prosedur, tim medis melakukan tes menyeluruh untuk menentukan apakah pasien dapat menghentikan pengobatan HIV hariannya dengan aman. Hasilnya meyakinkan:
- Transformasi Kekebalan Tubuh: Sel kekebalan baru telah sepenuhnya menggantikan sel asli pasien dalam darah, sumsum tulang, dan bahkan saluran pencernaannya.
- Nol Replikasi Virus: Dari 65 juta sel T CD4 yang diuji—target utama HIV—tidak ada satu pun yang mampu mereplikasi virus.
- Pengenalan Kekebalan Tubuh: Meskipun sistem kekebalan baru pasien merespons secara normal terhadap ancaman umum seperti influenza, sistem kekebalan tersebut tidak lagi mengenali HIV sebagai target, sehingga secara efektif menjadikan virus “tidak terlihat” dan tidak dapat bertahan.
Konteks Lebih Luas: Mengapa Ini Penting
Meskipun kasus ini merupakan tonggak sejarah ilmiah yang penting, penting untuk membedakan antara penyembuhan total dan penyembuhan fungsional.
Penyembuhan total berarti eliminasi total virus dari setiap sudut tubuh. Sebuah “penyembuhan fungsional” menyiratkan bahwa virus dikendalikan atau ditekan dengan baik oleh sistem kekebalan tubuh sehingga pasien tidak lagi memerlukan pengobatan dan tetap sehat.
Tantangan ke Depan
Meskipun terdapat kegembiraan, para dokter mengingatkan bahwa metode ini bukanlah solusi universal bagi 30 juta orang yang hidup dengan HIV di seluruh dunia:
– Risiko Tinggi: Transplantasi sumsum tulang bersifat invasif, berbahaya, dan memiliki risiko seperti penyakit graft-versus-host.
– Skalabilitas: Transplantasi hanya dapat dilakukan pada pasien yang sudah memerlukannya karena kondisi lain, seperti kanker.
– Aksesibilitas: Kendala logistik dan finansial dari prosedur tersebut membuat prosedur tersebut tidak mungkin diterapkan sebagai pengobatan HIV standar.
Menantikan
Kasus Oslo berfungsi sebagai “batu loncatan” yang penting. Dengan mempelajari perubahan sistem kekebalan tubuh pasien, para ilmuwan berharap dapat mengembangkan strategi yang tidak terlalu invasif, seperti rekayasa antibodi, yang pada akhirnya dapat memberikan penyembuhan fungsional bagi masyarakat umum.
Kesimpulan: Meskipun transplantasi sel induk dari donor yang resisten secara genetik terlalu jarang untuk dijadikan pengobatan massal, kasus ini memberikan cetak biru bagaimana kita suatu hari nanti dapat merekayasa sistem kekebalan tubuh manusia untuk melawan HIV tanpa memerlukan pengobatan seumur hidup.





























