Bisakah Anda Melatih “Mata Pikiran” Anda? Menjelajahi Kemungkinan Afantasia

14

Bagi kebanyakan orang, menutup mata memicu tayangan slide mental: rumah masa kecil, apel merah, atau wajah orang yang dicintai. Namun bagi sebagian besar penduduk, yang ada hanyalah kegelapan. Fenomena ini dikenal sebagai aphantasia —tidak adanya “mata pikiran”.

Meskipun dulunya merupakan keingintahuan neurologis yang tidak jelas, aphantasia telah memasuki kesadaran publik. Seiring dengan berkembangnya penelitian, semakin besar pula komunitas “penglihat rendah” yang mengajukan pertanyaan mendasar: Apakah mata pikiran merupakan sifat biologis yang tetap, atau merupakan keterampilan yang dapat dilatih?

Spektrum Citra Mental

Afantasia bukanlah suatu kelainan, melainkan suatu variasi dalam cara otak manusia memproses informasi internal. Penelitian menunjukkan bahwa gambaran mental ada dalam spektrum yang luas:

  • Visualisasi Tinggi: Dapat menampilkan adegan definisi tinggi yang jelas sesuka hati.
  • Visualisasi Rendah: Melihat garis tepi kabur, warna sekilas, atau bentuk redup.
  • Aphantasics: Tidak mengalami gambaran visual sama sekali, sering kali memproses informasi melalui fakta, kata-kata, atau kesadaran spasial.

Kajian ilmiah mulai beralih dari sekadar deskripsi subjektif—yang mungkin tidak bisa diandalkan—ke arah pengukuran yang lebih objektif. Misalnya, para peneliti telah menemukan bahwa orang-orang dengan aphantasia tidak menunjukkan pelebaran pupil atau respons ketakutan fisiologis yang sama ketika membayangkan skenario terang, gelap, atau menakutkan seperti orang-orang yang membayangkan skenario pada umumnya. Hal ini menegaskan bahwa aphantasia adalah perbedaan neurologis yang nyata, bukan hanya masalah bagaimana orang memilih untuk menggambarkan pikiran mereka.

Pencarian “Penyembuhan” dan Pelatihan

Karena istilah ini baru diciptakan 16 tahun yang lalu, bidang “pelatihan citra” masih dalam tahap awal. Didorong oleh komunitas online, banyak orang beralih ke pelatih tidak resmi untuk mencoba “membuka” korteks visual mereka.

Salah satu pelatih tersebut, Alec Figueroa, telah bekerja dengan lusinan peserta pelatihan, melaporkan “terobosan” mulai dari melihat warna sekilas hingga menyelesaikan adegan. Namun, komunitas ilmiah tetap berhati-hati.

“Belum ada penelitian yang sepenuhnya menilai metode apa pun untuk meningkatkan gambaran mental,” ilmuwan saraf Reshanne Reeder memperingatkan.

Meskipun beberapa laporan anekdot menunjukkan perbaikan, saat ini tidak ada bukti yang membuktikan bahwa pelatihan secara mendasar dapat mengubah kemampuan otak untuk menghasilkan gambar visual.

Kesadaran Spasial vs. Detail Visual

Nuansa menarik dalam penelitian aphantasia adalah perbedaan antara citraan objek dan citra spasial.

Ahli saraf berpendapat bahwa otak menggunakan dua “aliran” berbeda untuk pemrosesan internal:
1. Pencitraan Objek: Kemampuan untuk melihat detail, warna, dan tekstur suatu objek (“apa”).
2. Citra Spasial: Kemampuan memahami posisi, pergerakan, dan susunan benda dalam ruang (“di mana”).

Banyak orang dengan aphantasia mendapat nilai tinggi dalam pencitraan spasial. Mereka mungkin tidak “melihat” sebuah ruangan di kepala mereka, tetapi mereka “tahu” secara pasti di mana letak furnitur tersebut. Hal ini menjelaskan mengapa beberapa peserta pelatihan melaporkan peningkatan orientasi spasial—merasakan “ruang kosong” di sebuah ruangan—tanpa benar-benar melihat gambar visual.

Pedang Mata Pikiran Bermata Dua

Perdebatan mengenai apakah akan “memperbaiki” afantasia sangat terpolarisasi. Bagi sebagian orang, seperti mereka yang ingin melihat wajah orang-orang terkasih yang telah meninggal, aphantasia terasa seperti sebuah defisit. Bagi sebagian lainnya, kurangnya citra merupakan perisai pelindung.

Potensi kelebihan dan kekurangannya meliputi:

  • Potensi Kerugian: Kesulitan dengan jenis memori otobiografi tertentu dan potensi “menumpulnya emosi” atau tumpulnya empati dalam beberapa kasus.
  • Potensi Keuntungan: Berkurangnya kerentanan terhadap kilas balik PTSD, halusinasi visual, dan gambaran mental yang mengganggu dan menyusahkan.

Bagi banyak penderita afantasis, cara berpikir mereka bukanlah suatu halangan melainkan semacam kekuatan yang berbeda, yang memungkinkan mereka untuk lebih fokus pada ide-ide dan emosi-emosi abstrak daripada terganggu oleh aliran gambaran internal yang terus-menerus.

Kesimpulan

Apakah gambaran mental merupakan cetak biru biologis yang kaku atau keterampilan kognitif yang fleksibel tetap menjadi salah satu pertanyaan paling menarik dalam ilmu saraf. Ketika penelitian yang akan datang beralih dari pelatihan anekdot ke uji klinis terkontrol, kita akan segera mengetahui apakah mata pikiran benar-benar dapat dibuka—atau apakah kegelapan hanyalah cara lain yang sama validnya dalam memandang dunia.